My List: Top 7 Best Talk Show Hosts

Assalamu’alaikum, ranah wordpress yang sudah sekitar 1 tahunan saya anggurin *semprot pewangi*

Tak terasa gelap pun jatuh waktu cepat sekali berlalu, bikin wordpress ini sekitar kelas 2 SMP, dan sekarang sudah tua-tua keladi dan beranak-cucu kelas 3 SMA akhir. Lumayan lah ya, banyak perubahan yang terjadi. But on top of the list: SAYA UDAH NGGAK ALAY!!! y333334y! Yah quoting Raditya Dika, semua orang pasti pernah melewati fase alay yang merupakan perwujudan dari fase pendewasaan diri. Eh bentar, Raditya Dika pernah ngomong itu ga sih? Sungguh, ini postingan yang ga mutu. Bye. Tapi jangan khawatir untuk fans setia saya, bahwa muka saya masih seperti dahulu. Ya, benar sekali, serentetan musim hujan, musim kemarau, angin muson barat, dan angin muson timur yang berhembus silih berganti tidak mengubah bentuk muka saya yang amat sangat serupa dengan Justin Timberlake. Tidak sama sekali, bahkan tidak untuk 1 inchi.

Lah malah ngelantur.

Oke, di kelas 3 akhir ini sudah banyak sekali jadwal akademik yang harus saya dan teman-teman selebriti hollywood sekolah saya lewati. Ini aja baru selesai Ujian Akhir Semester 6, dan sudah disambut dengan Latihan Ujian Nasional, Ujian Sekolah, dan Ujian Sekolah Berstandar Nasional. Belum lagi gong-nya, yaitu Ujian Nasional dan (semoga tidak) SBMPTN. Yak, bukannya belajar mempersiapkan itu semua, saya di sini malah pw (posisi wueeenak) di depan laptop dan menulis postingan blog yang dibaca oleh satu orang pun belum tentu. Tapi gapapa, karena seperti apa yang sudah dimengerti oleh semua orang: surga itu ada di bawah telapak kaki ibu.

Lah tambah ngelantur.

Untuk postingan kali ini, saya tidak akan berbagi sudut pandang saya tentang insiden memalukan saat pengumuman Best Pictures di ajang Oscars 2017 (DESPITE I AM DEFINITELY UP FOR LA LA LAND) maupun kunjungan kenegaraan Raja Salman bin Abdul Aziz dan keluarga besarnya dari Arab Saudi (MBAK MAU SAMA SAYA NGGAK MBAK, SAYA YAKIN SAYA BISA NGELOLA TAMBANG MINYAK ARAB MBAK *ngomong ke putri Kerajaan Saudi* *ditabok pake Lamborghini* *direndem di minyak mentah* *dibakar*). Di postingan kali ini, saya akan sedikit berbagi mengenai suatu hal yang berkaitan dengan kegemaran saya untuk mengisi waktu luang. Seperti remaja 2k17 pada umumnya, saya cukup gemar ber-youtube ria di sela-sela waktu bebas dari PR, tugas, dan ulangan (but sometimes i do when pr, tugas, and ulangan strike, so please be calm human, i am as incapable as a student as you all). Mungkin banyak remaja yang membuka youtube untuk melihat music video terbaru dari musisi EDM favorit mereka, melihat trailer dari film-film yang mereka incar, melihat highlight pertandingan sepakbola semalam, sampai saking suwungnya hanya melihat satelit meng-orbit Bumi dari channel resmi NASA di sini. Ya, saya masih sering juga sih melihat video-video tersebut di youtube, apalagi yang terakhir. Tapi, saya punya genre video yang cukup unik untuk ditonton yang entah kenapa mulai menjadi kebiasaan saya saat ber-youtube ria. Seingat saya, masa kelas 1 SMA lah saya mulai tertarik ke genre video ini: bincang-bincang / talk show.

What I mostly love about a talk show is the host’s capability to mix good humour and smooth conversation. Biasanya di awal acara, sang host akan memberi monologue yang biasanya berisi tentang isu-isu terkini. Masing-masing host punya selera humor tersendiri yang tentunya berbeda-beda satu sama lain. Karena itulah masing-masing talk show memiliki segmented audience yang juga bervariasi.

Baca lebih lanjut

Percakapan yang dibawa oleh hujan

Januari ini hujan lebih sering menyapa kita, entah kenapa. Tapi yang kutahu kenapa, ia membawa ribuan rintik yang menggelitik tiap insan, tentang siapa sebenarnya diri kita.

Lucu saja bagaimana saya ingin sedikit bercerita, padahal kita sama-sama tahu saya belumlah menjadi siapa-siapa. Mungkin benar, saya hanyalah seorang remaja yang terperanjatkan berisiknya alunan hujan, yang kemudian terefleksikan yang semoga saja bukan delusi spontan: siapa saya.

Jujur saja, bagi siapa saja yang merasa mengenal saya, mungkin anda terkejut jikalau saya katakan anda belum mengerti utuh tentang saya.

Saya adalah apa yang lingkungan bentuk kepada saya. Dan saya haqqul yaqin anda juga sepertinya. Namun yang berbeda mungkin, disaat anda semua tahu betul dan mulai mendalami “bagian” anda masing-masing, saya masih saja di square one. Bukan mengada-ada, tapi jika diberi pilihan untuk berteman dengan 10 teman, mungkin saya memilih 0. Karena menurut saya, teman yang terlihat baik belumlah tentu menggoda saya bahkan hanya untuk mengetahui namanya sekalipun. Butuh sesi pendalaman bagi saya, untuk tak asal comot agar saya tak menyesal nantinya. Karena menurut saya, teman bukanlah mereka yang suka menggoda dan mengejek kita, mengerjai kita, hingga meng-edit foto muka kita ke sebuah gambar simpanse. Namun ada sebuah filosofi pertemanan bagi saya yang amat berarti, berupa point yang tidak boleh meleset, yaitu kekeluargaan. Beberapa diantara mereka mungkin ada yang menganggap saya sebagai bagian dari pertemanan masa lalu mereka, which is fine. Karena menjadi sebuah masa lalu pun bagi saya sudah menjadi hal yang luar biasa, tidak perlu diungkit-ungkit kembali dan menurut asumsi saya, kita sama-sama impas. Dan saya pun merasa hal yang sama, untuk bisa move on dari mereka (sebuah pertemanan masa lalu) dan go on ke pertemanan masa depan. Ini bukan berarti saya turut melakukan hal yang sama kepada teman-teman yang selalu mencoba berbuat hal yang luar biasa kepada saya, dimana saya tidak tidak tidak dan tidak akan pernah melupakan mereka. Dimana satu senyum mereka akan saya balas bahkan dengan seribu senyum jika saya bisa.

Alhasil saat ini sudah terbentuk sebuah lingkaran pertemanan erat yang menghiasi kehidupan sehari-hari saya. Beberapa diantaranya bahkan sudah sangat dekat, dan amat-sangat berarti bagi saya. Dan dari proses terbentuknya sebuah lingkaran itu, sejenak saya terpikir dan menyadari, alangkah tidak enaknya berproses untuk menjadi bagian dari lingkaran pertemanan saya. Mereka harus melewati sebuah tembok angkuh yang tinggi, dimana rasa superioritas dan keegoisan bercampur-aduk menyeret-nyeret mereka. Mungkin inilah yang membuat saya kagum terhadap mereka, yang hingga detik ini masih menganggap saya menjadi partner. Jika anda berpikir tentang satu atau dua keegoisan, anda salah besar. Mungkin diri saya inilah sarang dari ketidakingintahuan di dunia, bayangkan anda harus bertemu saya, apalagi di tiap hari bagian hidup anda.

Namun di satu sisi, saya berpikir. Mengenai betapa beruntungnya saya dihinggapi sebuah pertemanan tulus yang saling mengajarkan definisi murni dari sebuah angin lalu yang memutuskan untuk tinggal di hidup saya. Seketika saya berpikir, saya (sebagai orang paling egois di dunia), DIKALAHKAN oleh keegoisan teman-teman saya yang hingga DETIK INI masih setia menemani saya. Sebagai seorang egois yang pekerja keras, tentu saya sudah coba memberi perlawanan. Saya tegaskan kepada teman-teman saya mengenai keegoisan saya baik secara implisit maupun eksplisit, baik dalam ucapan maupun perbuatan saya. Namun saya heran, MENGAPA mereka masih mau mengajak main saya, mengajak saya dalam kelompok belajar, bercanda-ria dengan saya, hingga legowo untuk menerima saya menjadi bagian dari sebuah organisasi. Sontak saya tersadar, akal-pikiran saya tak mampu lagi, saya yang egois memutuskan menyerah kepada keegoisan teman-teman saya semua. Seketika itu juga, hati saya mulai berubah sinis kepada keegoisan dalam diri saya. Hati saya acap kali mengucap “Kurang ajar!!!” kepada keegoisan yang selama ini menyelimuti akal dan pikiran saya. Dan akhirnya, saya memutuskan untuk merubah diri saya.

Saya mulai berpikir tentang arti rasa kebersamaan dan keikhalasan. Dimana tak ada hal yang lebih indah dari keduanya dalam konteks pertemanan. Mungkin iya, getir dan pahit diawalnya, namun buah yang dipetik nantinya akan menjadi semanis-manisnya buah yang pernah ada di hidup anda.

Dan deras hujan di Januari itu, menyadarkan saya: bahwa saya hanyalah seorang makhluk sosial biasa yang BUTUH para makhluk sosial yang LUAR BIASA.

 

 

Terimakasih teman-teman, sudah menjadi apa-apa bagi lingkungan yang membentuk saya. Doakan saya cepat hinggap dari square one ini dan berlari mengejar kalian 🙂

16 Tahun yang Lalu

Dunia ini 16 tahun yang lalu,

Nafas pertama diberi yang terbaik dikala Shubuh, saat matahari masih segan menampakkan benderangnya.

Keesokan harinya, hingga 16 tahun berikutnya, matahari masih setia menemani. Mengorbit Bumi di Tata Surya, masih dengan sinar terang dan diiringi angin hangat yang dibawanya.

Dunia mencoba baik bagi kita.

Ayam masih berkokok membangunkan tiap fajar, hujan yang dinanti tak pernah ingkar janji memberi yang terbaik, tumbuhan-tumbuhan tak pernah izin menghasilkan oksigen bagi kita, dan kesunyian dunia yang memberi kita ruang untuk mengisinya baik dengan gelak tawa hingga isak tangis.

Jangan lupa mengucap terimakasih dunia dan segala retorikanya.

Jangan lupa mengucap terimakasih dunia dan segala permainan menggelikannya.

Maafkan, dunia, jika orang-orang tak seperti yang kau kira, yang pergunakan indra laksana hati ingin kemana.

Semoga, dunia, semua orang kelak akan mengerti mengapa diciptakan mereka dengan satu mulut dan dua telinga.

Sampaikanlah juga ke seluruh isimu, dunia! Bahwa senyum bahagia jauh lebih indah dari kesedihan dan kemarahan.

Terakhir, dunia. Jalankan skenario-Nya sebaik mungkin, buat hidup orang-orang lebih bermakna dan jauhkan dari iri dan dengki. Terimakasih.

Terimakasih dunia selama 16 tahun ini sudah memberikan yang terbaik. Sampaikan juga syukurku pada pencipta-Mu.

TV Series Terkece

Sebagai anak suwung endemik, nggak ada salahnya nyari-nyari serial tv yang “layak” buat ditonton tiap waktu suwung tiba. Biar gaul dan kekinian, makanya akhirnya blog ini pun di-update. Setelah banyak referensi dan masukan dari para sesepuh konoha, ini dia countdown ga jelas yang layak dapet predikat “TV Series Terkece” anak suwung dan gabut ini.. Mulai dari nomor 7 cekidot:

7. THE BIG BANG THEORY (2007 – )

A woman who moves into an apartment across the hall from two brilliant but socially awkward physicists shows them how little they know about life outside of the laboratory. – IMDB

Suka banget serial tv ini soalnya ambil latar dan watak tokoh unik. Sheldon Cooper (Jim Parsons) sama Leonard (Johnny Galecki) dapet banget adu akting jadi ahli fisika. Sheldon dengan keangkuhannya jadi ciri khas sendiri, ditambah tokoh lain dari Howard, Raj, Penny, sampe Bernadette bikin lengkap serial tv ini. Sheldon yang teoritis banget “dipaksa” temen-temennya buat hidup di dunia nyata, dimana sosialisasi satu sama lain itu sangat penting. Kepolosan Sheldon diawal-awal justru bikin serial tv ini hidup dan beda dari yang lain. Kalo nonton The Big Bang Theory ini sih siap-siapin aja bibir buat ndomblong, soalnya lawakan-lawakan ataupun sarkasme yang dipake disini kebanyakan “kelas atas” atau komedi cerdas jadi harus rajin-rajin biar ngerti maksud lawakannya. Kadang-kadang masih sering bingung aja maksud lawakannya, soalnya sering pake istilah-istilah ilmiah yang notabene orang awam ga tau. Sama satu lagi, silahkan nikmati ocehannya Sheldon yang panjangnya minta ampun, sebelas duabelas lah sama rapnya Eminem.


6. FAMILY GUY (1999 – )

In a wacky Rhode Island town, a dysfunctional family strive to cope with everyday life as they are thrown from one crazy scenario to another. – IMDB

Serial tv kartun paling favorit! Mungkin orang-orang lain pada lebih seneng The Simpsons, tapi gatau kenapa Family Guy lebih menarik buat diliat. Dari karya-karya Seth MacFarlane mulai dari American Dad!, The Cleveland Show, sampe Family Guy, semuanya favorit, tapi paling favorit ya ini. Soalnya, humornya Family Guy itu keliatan lebih liar hahahaha, tapi nggak seliar Ted lho yha -_- Baca lebih lanjut

Life In Technicolor :)

Life In Technicolor iiHere is the MV for life in technicolor ii:

There’s a wild wind blowing, down the corner of my street. Every night there the headlights are glowing..
There’s a cold war coming, on the radio I heard. Baby it’s a violent world..

Oh love don’t let me go
Won’t you take me where the streetlights glow?
I could hear it coming
I could hear the sirens sound
Now my feet won’t touch the ground

Time came a creepin’. Oh and time’s a loaded gun. Every road is a ray of light. It goes on. Time only can lead you on, still it’s such a beautiful night

Oh love don’t let me go
Won’t you take me where the streetlights glow?
I could hear it coming
Like a serenade of sound
Now my feet won’t touch the ground

Gravity release me, and don’t ever hold me down. Now my feet won’t touch the ground.


Greatest band ever.

To all the escapist,

They changed, they did. Yes because they’re living in technicolor world, their sky is full of stars. The hardest part is to take it, they said. Don’t panic, the scientist said they can fix you, to return your yellow life back. When you feel you’re in trouble, don’t be sad, don’t shiver, always remember that God put a smile upon your face. Twisted logic is your white shadow, a massage for your spark life. Don’t you feel you’re lost, you know where I am, in my place. The clocks is ticking…

VIVA LA VIDA

Live your life…

….. show me your magic and take me to the paradise.

Paradise

#postingan lebay

#ketimbang suwung

@ihzasli

Serial TV: Sherlock

Update Update Update 😀

A Syahsam's

Siapa sih yang enggak kenal aku Sherlock Holmes? Tokoh rekaan Sir Arthur Conan Doyle ini sungguh mempesona dengan analis-analis kuatnya saat berusaha memecahkan kasus menarik. Gaya-nya yang tenang, membuat ciri khas Sherlock Holmes lebih menarik. Oleh karena itu, setiap edisi cerita-nya menarik untuk di-visualkan. Misalnya, Sherlock Holmes The Movie (Robert Downey Jr.). Menuai banyak untung, banyak pihak tertarik untuk menjadikannya TV Series. Dan akhirnya, BBC (melalui Steven Moffat dan Mark Gatiss) memproduksi serial fenomenal: Sherlock The Series.

A modern update finds the famous sleuth and his doctor partner solving crime in 21st century London.

Benedict Cumberbatch dan Martin Freeman di Sherlock – IMFDB

Mengambil plot cerita di abad ke-21, Sherlock Holmes (Benedict Cumberbatch) dengan dr. Watson (Martin Freeman), berkerja-sama untuk memecahkan kasus-kasus yang terjadi. Sebagai detektif swasta, banyak yang tidak menyukai keberadaan Sherlock. Tak jarang, aksi-aksi fantastis perpaduan antara logika pemikiran dan senjata-senjata sering terjadi. Aksi-aksi di Serial Sherlock yang…

Lihat pos aslinya 361 kata lagi